Tampilkan postingan dengan label Racing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Racing. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

Ganti Knalpot Matik? Pilih Yang Perut Besar Pembuangan Kecil

Knalpot Racing, lebih rajin bongkar mesin
Bikers Indonesia. 14 Maret 2011 - Standar knalpot matik, perutnya besar dan ujung pembuangannya kecil. Desain begitu,  turbulensinya kuat. Tarikan matik sejak awal lebih enteng. Kompresi di ruang bakar, dibantu tekanan balik knalpot ini. Mudah memancing di air keruh. Maksudnya, reaksi tenaga awal lebih mantap, Bro! Umur komponen  panjang.

Sengaja pabrik mendasainnya begitu. Tak perlu teriak seperti kesetanan alias rpm tinggi, untuk menggerakkan CVT. Seperti model meniup kuat-kuat. Pipi jadi tembem, tapi tiupannya lebih tajam. Arus baliknya pasti besar.
Jika ingin knalpot racing harian, beli knalpot yang modelnya tidak jauh dari  standar. Cari, knalpot racing yang prinsip modelnya sama. Tenaga akan melambung, tapi tanpa menghilangkan reaksi tenaga awal. Mudah dihandling.

Jika terlalu free flow alias dari perut knalpot sampai ujung lubang nyaris sama besar, jelas punya kerugian. Butuh meraung-raung dulu alias rpm besar, skubek baru bergerak. Tadinya 1.000 rpm telah jalan, kini dia atas itu. Berarti, jam hidup komponen lebih singkat. Beda kalau di balap, knalpot seperti itu yang dibutuhkan. Ngoooong..., seperti menggonggong.

Cara kerja knalpot racing yang bagus, akan memberikan daya balik ke ruang bakar. Tabungnya berfungsi mengolah udara buang sekitar 30-40 persen.

Ya, iyalah. Pembuangan seperti ditahan. Tidak langsung dilepas. Pusaran di perutnya yang buncit itu, akan kembali berputar ke ruang bakar membantu piston turun-naik. Makanya, Cari knalpot yang mirip desain standar.

 Jangan lupa, sempurnakan lewat karburator setelah ganti knalpot (kiri).Pilih diameter pas sesuai kapasitas mesin (kanan).

Pilihan Diameter Pipa
Knalpot racing harian, bisa pertimbangkan diameter pipanya. Besar kecilnya pipa, harus sesuai kapasitas mesin. Untuk matik kapasitas standar, bisa pilih ukuran pipa yang lebih kecil. Diameter dalam sekitar 22 milimeter. Sementara, diameter luar sekitar 1 inci.
Berbeda dengan pemakaian yang memang diproyeksikan untuk balap. Atau mesin yang sudah berkapasitas besar yang telah dikorter.
Model free flow yang pas untuknya berdiameter besar dan bertingkat. Maksudnya dari leher, perut dan silincer bertingkat diameternya. Itu untuk balap. Kalau harian kan lebih pada sebatas penampilan, tapi gak salah juga kalau tetap bertenaga.

Jumat, 11 Februari 2011

Jok Tipis Atau Berlubang

Bikers Indonesia. Jakarta, 12 Februari 2011 - Penyuka aliran racing look, silakan lirik jok tipis seperti yang diaplikasi banyak skubek di Thailand. Atau juga bisa lirik model jok dengan beberapa lubang. Seperti yang dilakukan Defrifan Loudry di Yamaha Mio Soul miliknya.

Setelah aplikasi pelek 17 dengan profil ban tipis, skubek kelahiran 2008 miliknya makin terlihat keren dengan jok tipis. Buat riding enggak ada masalah. Malah sudah sampai ke Kuningan-Cirebon segala.
Hal yang sama juga ditempuh oleh Abdul Majid bersama Honda BeAT miliknya. Skubek gue makin sporty berkat jok tipis ini. Bokong juga enggak pegel, karena masih ada busa juga kok.

Hasani beda lagi, dia lebih percaya diri dengan jok bolongnya. Karena selain bisa dipakai harian, untuk contezt juga bisa. Makin keren aja deh tampilan motor ini.

Mau ikuti virus yang mereka aplikasi? Enggak sulit kok. Karena beberapa ahli jok mau buka cara pembuatan. Kalau jok tipis, tinggal permainan dari tebal-tipisnya busa dan fiber.

Fiber di sini, maksudnya plastik alias dudukan busa alas pantat. Fiber ini, kudu dipapas. Terutama bagian samping bawah itu, dipapas sekitar 1,5 cm.

Sisi lain yang dipapas, bagian atas plastik jok itu sendiri. Mio dan BeAT berbeda. “Di Mio, bagian atas tengah dan belakang. Karena bagian ini menonjol. Jadi ketika dipasang busa lagi, masih bisa rata,” aku pemuda asal Batang, Jawa Tengah ini.

Sedang BeAT atau vario, fiber bagian yang letaknya di atas bagasi tidak cuma dipapas. Tapi dibolongin. Nantinya ditambal pelat stainless steel, biar rata. Model jok berlubang,  setelah fiber dipapas, nantinya juga dibor pakai alat khusus. Setelah itu, baru diberi ring yang dibuat dari fiberglass.

Johan Wahyudi juga siap kalau ada order atau pesanan membuat jok seperti ini. Pokoknya enggak perlu waktu lama.

Lanjut bicara soal harga! Kalau ingin beli berikut fiber sekaligus, banderolnya Rp 160 – 210 ribu. Tapi kalau tanpa fiber, cuma dipatok Rp 80 – 130 ribu. “Tergantung dari bahan kulit jok juga. Misal, pakai MB Tech,” tutup Rojak yang buka cabang di Jl. Raya Bogor, Cibubur ini.

Minggu, 21 November 2010

Honda Fokus Gembleng 4 Prinsip Dasar Pembalap

Jakarta, 22 November 2010 - Guna menyiapkan pembalap masa depan, PT Astra Honda Motor (AHM) kembali melanjutkan pendidikan bagi siswa balapnya di Honda Racing School (HRS) dengan fokus utama pada peningkatan riding skill, fisik, mental, dan way of thinking.

Keseriusan AHM di bidang motor sport diimplementasikan pada tahapan pendidikan yang dikembangkan dalam HRS. Setelah memberikan materi riding skill dan melakukan seleksi di tahap I dan II di Sirkuit Sentul International Karting, Jakarta, pembinaan calon pembalap masa depan Honda ini memasuki tahap III yang dilangsungkan di sirkuit PARK Kenjeran, Surabaya pada pekan lalu. 
Pada tahap III HRS ini, pembinaan pembalap difokuskan pada latihan fisik, mental, dan way of thinking. Riding skill tetap ada pada tahap ketiga ini, namun secara keseluruhan titik tekannya lebih pada fisik, mental dan way of thinking. Secara keseluruhan, empat hal ini menjadi sasaran pembinaan HRS 2010.
Sementara itu Instruktur HRS yang juga mentor balap Suzuka Racing School Noboru Ueda, menyatakan empat hal tersebut merupakan kunci kesuksesan seorang pembalap. Dengan riding skill, mental dan fisik serta way of thinking yang bagus, pembalap akan mudah meraih prestasi. Empat hal ini sangat berkaitan dalam mendukung prestasi pembalap.
Tahap III HRS di Surabaya diikuti oleh 11 siswa, yang merupakan hasil seleksi dari tahap I dan II. Pembinaan di Kenjeran PARK Surabaya merupakan tahap lanjut dari rangkaian pembinaan yang dilakukan HRS 2010. Jika pada tahap I ada 20 orang, tahap II berkurang jadi 16 orang, dan pada tahap terakhir ini hanya diikuti 11 orang.

Dilihat dari grafik catatan waktu yang diraih oleh siswa, pembinaan selama seminggu cukup membuahkan hasil. Kerja keras Noboru Ueda yang dibantu mentor lokal Ahmad Jayadi dan Wawan Hermawan, membuat siswa mampu meraih catatan waktu rata di rentang 43-44 detik di sirkuit tersebut dengan menggunakan motor Honda Blade standar.