Tampilkan postingan dengan label Pertamina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertamina. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2011

Pertamax Dan Pertamax Plus Bikin Mesin Jadi Panas?

Wianda Pusponegoro.
Pembakaran lebih sempurna
menambah tenaga mesin
Bikers Indonesia. 1 Maret 2011 - Macam manusia saja, mesin juga bisa demam. Suhunya tinggi akibat minum Pertamax atau Pertamax Plus. Mereka kaget setelah menggunakan Pertamax atau Pertamax Plus mesin jadi panas. Wah, kudu dikompres dong.


Analisis dengan bertanya kepada pihak Pertamina mengenai spek teknisnya. Dan tes laboratorium sendiri agar hasilnya independen.


Pertama, mari kita uji dulu kenapa menggunakan bensin Pertamax atau Pertamax Plus mesin jadi panas. Benar gak sih omongan para pengguna motor itu? Cara uji atau tes biasa dilakukan mekanik dengan melihat dari campuran bensin-udara.

Dari omongan mekanik, jika campuran gas bakar kebanyakan udara atau angin, berakibat mesin jadi panas. Biasa disebut campuran kurus atau miskin bensin. Bahasa awamnya dicekek.

Sama seperti ketika kita melakukan pengiritan bensin. Jika kelewat irit, bikin mesin panas atau overheat. Ini sama saja dengan campuran miskin bensin atau campuran kering.

Tes dilakukan di Honda Supra X 125. Untuk menganalisisnya gas bakar dipasang Air Fuel Rasio atau AFR. Dari sana bisa ketahuan karakter campuran bensin bila menggunakan Premium, Pertamax dan Pertamax Plus.

Untuk pembakaran sempurna antara bensin dan udara ada takarannya. Untuk membakar bersih 1 molekul bensin butuh 12,5 molekul udara. Ini tidak akan menimbulkan kerak atau karbon.

Dari hasil pengujian, jika menggunakan Premium, kurvanya paling bawah atau hijau. Itu mengindikasikan campuran lebih basah atau kaya bensin. Ini yang bisa bikin adem mesin.

Namun jangan lupa, memang bikin adem mesin. Tapi, nilai panas hasil pembakaran rendah. Energi panas (kalor) yang diubah jadi energi gerak (power mesin) jadi rendah. Makanya menggunakan Premium, tenaga mesin kurang maksimal.

Dari kurva hasil pengetesan juga bisa dilihat karakter Pertamax (biru). Posisinya berada di tengah antara Premium dan Pertamax Plus. Sesuai dengan nilai oktan yang dikandungnya.

Lalu bagaimana agar menggunakan Pertamax tapi mesin tidak panas? Cara paling gampang memang bisa diakali dengan setelan angin. Tapi, itu hanya untuk rpm bawah terutama ketika mesin langsam.

Cara lain bisa ditempuh dengan menggunakan spuyer yang lebih gede satu tingkat. Tapi, yang perlu diwaspadai jangan sampai kebanyakan kelewat besar. Malah mengurangi tenaga mesin dan berakibat jadi timbunan kerak.

Teknik paling benar lihat dari kepala busi. Kalau elektrodanya berwarna merah bata, menandakan masih normal. Tapi, apabila ternyata elektroda putih boleh ganti spuyer naik satu tingkat.

Dari hasil analisis juga bisa dilihat. Motor yang menggunakan Pertamax atau Pertamax Plus jika dibongkar kepala silindernya. Ruang bakar lebih bersih dan sedikit timbunan kerak.

Berbeda dengan yang menggunakan Premium. Selain ada karbon hitam, timbunan kerak lebih banyak. Menandakan pembakaran lebih bagus menggunakan Pertamax atau Pertamax Plus.

Keterangan Pertamina

Pertamax merupakan bahan bakar non timbel yang memiliki angka oktan di atas 92 dan mengandung additive untuk meningkatkan kualitas bahan bakar. Sedangkan Pertamax Plus bahan bakar non timbel yang memiliki angka oktan di atas 95 dan mengandung additive juga.

Dengan angka oktan yang lebih tinggi dari Premium (oktan 88), Pertamax dan Pertamax Plus memiliki tingkat pembakaran yang lebih sempurna untuk menambah tenaga mesin dan membuat konsumsi bahan bakar lebih irit.

Itu yang menyebabkan suhu motor yang menggunakan Pertamax atau Pertamax Plus lebih tinggi. Kalau pembakaran lebih sempurna, panas yang dihasilkan dari pembakaran lebih tinggi. Energi panas jadi energi gerak juga jadi lebih gede.

Efisiensi thermis atau panas yang dihasilkan dari pembakaran lebih banyak.Power yang tercipta juga lebih besar. Ini yang menyebabkan lebih efisien dalam pemakaian Pertamax Plus. Satu liter bisa lebih jauh dibanding pakai Premium.

Lebih bagus lagi, Pertamax dan Pertamax Plus dipadukan dengan mesin yang memiliki rasi kompresi lebih tinggi. Seperti motor-motor sekarang. Misalnya Suzuki Satria F-150 atau motor yang diproduksi Thailand.

Dari spesifikasi yang dianjurkan, Pertamax Plus bisa digunakan untuk motor yang punya rasio kompresi di atas 1 : 10,5. Macam Suzuki Satrai F-150 yang memiliki kompresi 10,2 : 1.

Untuk dipakai di racing juga terbukti. Pertamax Plus bisa tembus menggunakan rasio kompresi 12,5 : 1.

Di motor harian yang dijual di pasaran, tidak ada yang memiliki kompresi lebih dari itu. Motor-motor yang basic produksinya di Thailand dengan bahan bakar di sana lebih bagus pun kompresinya tidak sampai 12,5 : 1. Jadi, memang nggak perlu takut overheat.

Grafik hasil pengetesan Premium, Pertamax dan Pertamax Plus

Minggu, 06 Februari 2011

Harga Masih Tinggi, Konsumen Ogah Pakai Pertamax

GambarBikers Indonesia. Jakarta 6 Februari 2011 - Walau harga harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax sudah kembali turun menjadi Rp 7.950 per liter, beberapa pelanggan masih enggan untuk mengkonsumsi BBM jenis tersebut karena dirasa masih mahal. Pelanggan yang biasa menggunakan BBM Pertamax kini masih menikmati konsumsi BBM jenis Premium untuk sementara waktu.

Salah seorang pengguna Pertamax, Bintang mengungkapkan sempat terkejut ketika harga Pertamax menembus Rp 8.050.

"Kemarin, pas harga naik saya sempat kaget lihatnya. Tapi ya sudah saya sempat beli dulu," ujar Bintang ketika ditanya oleh rekan Bikers Indonesia.


Bintang mengatakan, dirinya merasa terbebani jika harus membeli BBM Pertamax dengan harga Rp 7.950 per liternya. "Kemarin waktu harganya masih Rp 7.850 saya sudah sempat keteteran. Maklum saya kan masih mahasiswa. Tapi ini sudah naik lagi, maka terpaksa saya beli premium saja dulu sementara waktu," kata Bintang.

Menurut ia, kendaraan bermotor dengan jenis sepeda motor yang sehari-harinya dikendarai biasa memang biasa menggunakan Pertamax. Akan tetapi, menurut Bintang seiring naiknya harga BBM Non-subsidi tersebut, dirinya sementara waktu ini akan beralih ke Premium sampai menunggu harga Pertamax kembali turun. 

"Saat ini memang sudah turun, tetapi masih tinggi, selisihnya juga cukup jauh sama premium," terangnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Rudi yang mengatakan bahwa sejak adanya kenaikan Pertamax hingga menyentuh Rp 8.050 sontak membuatnya memutuskan untuk membeli Premium

"Sempat shock saya, tapi wajarlah karena kan minyak harganya juga sedang naik," jelas Rudi.

Bahkan, Rudi yang bekerja sebagai karyawan swasta tersebut mengaku terpaksa beli dengan cara 'mencampur'. "Jadi, biasanya kalau berangkat kerja, mau isi bensin saya pasti isi pakai Pertamax dulu. Kemudian kalau pulangnya baru saya pakai Premium. Tapi untuk ke sininya, saya lebih banyak pakai Premium lagi sampai tunggu harga Pertamax kembali wajar," jelasnya.

Seperti diketahui, sejak tanggal 1 Februari 2011 kemarin, harga Pertamax Cs kembali naik. Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, Pertamax naik hingga Rp 8.050 per liternya.

Minggu, 19 Desember 2010

Beli Pertamax Nyumbang Rp 10

GambarJakarta 20 Desember 2010  - Pertamina semakin gencar mengampanyekan penggunaan Pertamax ke masyarakat. Kini selain mengurangi jumlah subsidi BBM, para pengguna Pertamax ternyata juga bisa membantu sesama. Kok bisa?

Usut punya usut, ternyata setiap liter Pertamax yang terjual, Rp 10 diantaranya akan digunakan untuk kegiatan sosial.

Dana tersebut nantinya akan disalurkan ke Palang Merah Indonesia. Dan dengan kerja sama ini, Pertamina berharap dapat mengajak pelanggan mereka untuk tetap setia menggunakan Pertamax dengan nilai tambah sosial tersebut.

Untuk tahap awal, kerjasama dengan PMI ini akan berlangsung selama 2 bulan ke depan dan hanya berlaku di SPBU COCO (Company Owned Company Operated) Pertamina. Hingga November 2010, ada sekitar 38 SPBU COCO Pertamina yang berlokasi di beberapa kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan lain-lain.

Kampanye Pertamina untuk penggunaan Pertamax juga dilakukan akhir pekan lalu ketika Pertamina mengajak mereka beramal sekaligus berpetualang melalui ajang Bright Charity Fun Rally.

Dalam acara ini, lebih dari 100 peserta akan merasakan eksperimen unik mengenali produk dan layanan Pertamina sekaligus beramal karena sebagian dari biaya pendaftaran akan disumbangkan untuk korban bencana Wasior dan Merapi.

Pembukaan acara dilakukan oleh Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Djaelani Sutomo di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Minggu (19/12). 

Dalam ajang ini, peserta akan diberikan petunjuk secara on air lewat radio dan untuk menyelesaikan petunjuk tersebut, peserta harus berpetualang dari satu SPBU ke SPBU lainnya.

Berbagai tantangan menarik pun juga menanti peserta di setiap SPBU. Peserta yang dapat menyelesaikan tantangan dengan benar dan cepat akan menjadi pemenang.

Kamis, 09 Desember 2010

Premium Dibatasi, Pengguna Mobil Beralih Naik Motor?

GambarJakarta 9 Desember 2010  - Pemerintah sudah memberikan opsi agar mobil dilarang menggunakan BBM subsidi atau Premium. Keputusan ini tinggal menunggu persetujuan DPR saja. Terkait dengan hal itu apakah pengguna mobil akan beralih menggunakan motor untuk menghindari peraturan tersebut.

Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata mengatakan presentase beralihnya pengguna mobil ke motor tidak dapat diprediksi. Masalahnya seperti yang dijelaskan Gunadi peraturan pelarangan menggunakan BBM non subsidi belum jelas.

Seperti apakah pelarangan mobil itu. Apakah tahun 2005 ke atas yang tidak diperbolehkan atau mulai 2000 ke atas. Kalau 2000 ke atas yang tidak boleh kemungkinan bakal banyak yang beralih ke motor.

Namun menurut Gunadi jika peraturan yang mengharuskan pemilik mobil mulai tahun 2005 keatas harus menggunakan Pertamax, kemungkinan yang beralih ke motor sedikit. "Soalnya pengguna mobil 2005 ke atas sedikit dan tidak banyak," tandas Gunadi.

Saat ini pemerintah masih menggodok dan menyiapkan 2 opsi untuk mekanisme pengaturan konsumsi BBM bersubsidi pada 2011. Opsinya pertama adalah larangan menggunakan BBM bersubsidi untuk semua mobil plat hitam atau mobil di atas tahun 2005.

Pembatasan BBM non-subsidi lantaran besarnya pengguna BBM Premium di Indonesia pada 2010. Bahkan pemerintah mengaku harus 'nombok' menambah lagi subsidi BBM karena melewati quota yang ditentukan. Untuk 2010, kuota BBM Premium melampaui 36,5 juta KL.

Kamis, 04 November 2010

Pertamina Siapkan BBM Khusus Balap

Jakarta, 4 November 2010 - Meningkatnya gelaran balap di dalam negeri ternyata mendorong Pertamina menyediakan bahan bakar khusus kebutuhan balap.

"Namanya Pertamina Pertamax Racing," sebut VP Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun ketika ditemui disela Jakarta Motorcycle Show (JMCS) 2010 di JCC Senayan.

Ia mengungkapkan sesuai namanya Pertamax Racing ini tidak dijual di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) namun dapat diperoleh dengan cara memesan khusus melalui call center Pertamina.

Semua itu dilakukan kata dia, demi menjaga agar bahan bakar ini tidak dikonsumsi oleh sembarang orang demi kebutuhan selain balap.
"Karena kalau pakai bahan bakar ini, performa mesin jadi meningkat drastis, sehingga kalau dijual bebas, takutnya banyak yang menyalah gunakan bahan bakar ini untuk kebutuhan kebut-kebutan dijalan," tegas Harun.

Mulai akan disalurkan pada Desember mendatang, Pertamax racing bakal tersedia dalam dua kemasan kaleng, yakni ukuran 20 liter dan 50 liter. "Harganya akan kita patok Rp50 ribuan," tambah dia.

Harun juga menjelaskan, keberadaan Pertamax Racing ini diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan para pembalap akan bahan bakar yang sesuai dengan kebutuhan adu kebut di sirkuit.

"Kita tahu di Indonesia itu ajang balap kini semakin banyak, dragrace hampir tiap pekan, kemudian ada drifting, roadrace, OMR, bahkan motocross juga makin marak. Jadi dengan Pertamax Racing kini ada bahan bakar yang sesuai dengan sepsifikasi mesin kendaraan balap," tukasnya.

Kamis, 21 Oktober 2010

Tambah Standar Emisi BBM, Pertamina Tunggu Instruksi

GambarJakarta, 21 Oktober 2010 - Beberapa pabrikan baik motor dan mobil meminta agar standar emisi gas buang dapat ditingkatkan. PT Pertamina pun mengaku siap merealisasikan hal tersebut bila memang ada instruksi dari pemerintah.

Saat ini standar emisi yang ditetapkan di setiap kendaraan yang beredar di jalanan Indonesia adalah Euro2. Beberapa kalangan mengatakan ada baiknya meningkatkan standar itu minimal menjadi Euro3 untuk menekan polusi kendaraan.

"Pada prinsipnya Pertamina siap. Kita punya SDM dan fasilitas yang sangat baik. Kita juga punya jaringan distribusi yang luas," ujar Vice Presiden Corporate Communication PT Pertamina M Harun beberapa waktu lalu.

Dengan kemampuan tersebut maka Pertamina menurut Harun selalu siap. Tinggal pemerintahnya saja yang menerapkan regulasi terkait hal ini. "Kita tunggu instruksi dari pemerintah dan lihat bagaimana regulasinya," cetus Harun.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata mengatakan kalau seluruh pabrikan motor yang ada di Indonesia sebenarnya sudah siap untuk beranjak dari standar Euro2 ke Euro3 asalkan bahan bakar yang beredar sekarang kualitasnya meningkat.

Sebab teknologi Euro3 dianggap akan sia-sia saja bila kualitas bahan bakar yang beredar sekarang masih jelek.

"Kawan-kawan tidak masalah. Tapi kalau bahan bakarnya tidak ada ya jadi
mubazir," ungkap Presdir Indomobil Group ini beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Gunadi menjelaskan bahwa peningkatan standar emisi menjadi Euro3 selain akan berdampak positif pada lingkungan juga dianggap memberi nilai lebih bagi industri.

Sebab hampir semua produsen motor yang ada di Indonesia mengekspor produknya ke luar negeri. Nah dengan perbedaan standar antara Indonesia dengan negara tujuan ekspor yang rata-rata sudah menerapkan standar Euro3 ke atas ini, ongkos produksi untuk ekspor tentu akan jadi tinggi.

"Kalau kita bisa mendapatkan BBM yang cocok, produknya bisa kita trim ke arah itu. Jadi tidak ada perbedaan antara produk yang dipasarkan di dalam negeri dengan yang diekspor. Total produksi pun akan lebih efisien," jelasnya.

"Kalau sekarang, setiap pabrik jadi harus punya dua alat. Satu alat untuk
produksi standar Euro2, satu lagi Euro3 untuk ekspor. Ini kan tidak efisien," pungkasnya.

Industri roda empat pun cukup kerepotan karena bahan bakar yang standarnya masih rendah. Di Jepang, tempat sebagian besar produsen mobil mengimpor mobilnya sudah menganut Euro4.

Pabrikan pun terpaksa menyesuaikan mesin yang diimpor secara utuh menjadi mesin yang bisa meminum BBM Euro2 di Indonesia. Seperti yang dilakukan Nissan dengan Elgrandnya.