Tampilkan postingan dengan label Honda CS1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Honda CS1. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Januari 2011

Mix & Match Part Performa Honda CS1

Jakarta, 27 Januari 2011 - Guna mendongkrak tenaga maupun torsi Honda CS1, tidak harus selalu korek saluran masuk plus buang, atau bore-up kapasitas silinder. Memang kedua cara itu mampu memberi hasil signifikan. Tapi bila sewaktu-watu mau dikembalikan ke kondisi standar lagi, butuh biaya yang lumayan. 


Cara paling simpel yakni dengan mengaplikasi peranti pendongkrak tenaga plug and play (PnP). Misalnya pada sistem pengapian, CDI diganti pakai yang kurvanya lebih advance dan berlimiter tinggi atau tanpa limiter. 


Bila perlu didukung dengan koil high performance untuk mendapatkan kualitas pengapian yang lebih oke. 


Selanjutnya saluran gas buang diganti dengan yang lebih plong alias freeflow. Nah, biasanya pemakaian knalpot freeflow kalau ingin hasilnya lebih maksimal, spuyer dinaikkan sekitar satu step. 

 “Minimal pilot jet naik 1 dari 35 (standar CS1) jadi 38,” bilang Tri, mekanik Ultraspeed di Jl. Cipto Mangunkusumo (Jl. H. Mencong), Ciledug, Tangerang, Banten. 



Lantas kombinasi part seperti atau merek apa yang kira-kira mampu mendongkrak performa CS1 cukup baik? 


Yuk kita coba ngeset beberapa part PnP yang ada di pasaran untuk crossover andalan pabrikan berlambang sayap mengepak ini. Lalu kita ukur hasil peningkatan tenaga maupun torsinya lewat mesin dyno milik Ultraspeed (DynoMite buatan Amerika). 


Oh iya, untuk bahan praktiknya, kami gunakan CS1 standar pabrik jebolan 2008 yang jarak tempuhnya sudah mencapai 13.700 km. Sebelumnya kondisi standar diukur terlebih dulu. 


Hasilnya, dicapai peak power sebesar 11,29 dk/9.300 rpm. Sedang torsi puncaknya tembus 9,2 Nm/ 8.000 rpm. 

Kemudian knalpot kami ganti tipe free flow. Produk yang dipilih yakni CLD seharga Rp 1,045 juta yang dari hasil pengetesan secara terpisah dengan beberapa produk lainnya, mampu menciptakan performa terbaik. Sebelumnya pilot jet dinaikkan 1 step pakai X-Treem seharga Rp 20 ribu. 

Setelah itu otak pengapian kami ganti pakai buatan aftermarket jenis single map berlabel BRT (tipe Neo Hyperband) yang di pasaran dilego sekitar Rp 610 ribu. Sementara koilnya pakai produk Protect terbaru. 

“Harganya masih kami pelajari. Mungkin enggak jauh beda dengan harga koil YZ125. Karena performanya mirip-mirip,” bilang Andy Soetomo, punggawa Ultraspeed yang bertindak sebagai distributor Protect. 

Namun sebelum motor mulai didyno, setelan pilot air screw kami atur di 1 ½ putaran membuka. Hasilnya, setelah 2 kali run di atas mesin dyno, didapat tenaga maksimum mencapai 12,45 dk/11.027 rpm. Artinya terjadi kenaikan sebesar 1,16 dk.



“Buka-bukaan tenaganya lebih enteng. Selain itu napas mesin lebih panjang dibanding kondisi standar. Putaran mesinnya juga bisa mencapai di atas 12.000 rpm,” ujar Apung, mekanik Ultraspeed yang bertindak sebagai operator dyno. Sementara torsi maksimum terkerek jadi 9,7 Nm/8.200 rpm atau naik 0,02 Nm. 


Sebenarnya kata Tri, hasilnya bisa lebih tinggi lagi. “Karena setelah businya dicek, pembakarannya terlihat basah. Rupanya akibat pecikan api busi memijar. Sepertinya performa busi sudah mulai menurun,” analisa Tri.

Selasa, 25 Januari 2011

Paket Korek Harian Enak Honda CS1, Mulai Rp 1-3 Jutaan


Jakarta, 25 Januari 2011 - Meski sudah berkapasitas 124,7 cc, masih banyak pemilik  Honda CS1 yang kurang puas dengan tarikan awalnya, “Makanya, ada yang upgrade pengapian, knalpot dan lainnya demi mengejar atau sekadar tambah akselerasi,” ucap Wahyudin, pemilik Honda CS1. 

Untuk memungkinkan hal itu, perlu adanya penambahan part tertentu sebagai pendukung agar tenaga mesin tak terbuang percuma. Nah, kalau Anda penasaran, kami membeberkan hasil pencarian dari beberapa bengkel yang biasa kasih pakohnak alias paket korek harian enak buat mesin si CS1 ini. 

Menurut Hendry pemilik bengkel Triwarna Speed (TS), pakhonak bisa jadi solusi nyembuhin penyakit Honda CS1 di putaran bawah yang kurang greng. “Karbu standar kadang suka lemot merespon putaran grip gas, makanya mesti diganti tipe racing berikut CDI non-limit dan knalpot aftermarket,” katanya. 

Untuk otak pengapian, TS lebih pilih CDI BRT tipe dualband, yang punya kelebihan putaran mesin bisa tembus di atas 13 ribu rpm dalam keadaan gigi netral. Proses porting polish tetap ada dan ditambahkan karbu PE 28 dan bobok knalpot. 

“Hasilnya, ruang bakar jadi lebih padat. Setelah selesai, pemilik besutan mesti mencoba dan mengoreksi bagian ke­kurangannya agar sesuai kapasitas yang ada,” ungkap pria yang buka bengkel di kawasan Kelapa Dua, Depok. 

Lainnya, ada juga bengkel di Jl. Lapangan Bola No.35, Kebon Jeruk, Jakbar ini, punya kategori pilihan yang biasa diminta para speedgoers. Syaratnya, pakhonak yang tersedia kudu mengganti di beberapa titik jika mau oke besutan Anda. 



Pilihan koil juga bisa jadi alternatif lain (kiri).
Karbu Honda NSR SP karbu sejuta umat (kanan)
. 
Biasanya karbu Honda NSR SP berventuri 28 mm, CDI hanya diset­ting ulang timming pengapiannya, por­­ting polish, papas noken as, ganti klep in dan knalpot. “Koil juga penting, untuk meningkatkan lompatan bunga api di busi, bisa pakai punya motor trail Yamaha YZF 125 atau Honda CRF, agar kerja mesin lebih ringan dan maksimal. Sudah paling pas deh buat harian,” terang Ando pemilik bengkel PSC. 

Beda cerita Fiki Farhan pemilik bengkel Fiki Motor (FM) yang sudah biasa menangani korekan buat Honda CS1. “Kalo buat harian jangan terlalu ekstrem beda dengan balap resmi, cukup perbaiki performa ditarikan awal saja, yang penting gak malu-maluin diajak ngacir,” kata pria yang buka bengkel di daerah Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi. 

Nah, untuk mewujudkan hal itu, menurutnya ada beberapa komponen yang harus diubah. Misal mengganti jeroan karbu standar (pilot jet/main jet) dan otak pengapian pakai CDI BRT dualband atau Rextor. Apa knalpot juga diganti tipe racing Bos? 

“Gak usah, knalpot cukup dibobok, bagian dalam silencer kita atur ulang posisinya agar tak terlalu banyak sekat atau saringan, sehingga gas buang lebih plong dan kita seting ulang spuyernya sampai maksimal, dari situ bisa diketahui sebatas mana CS1 ini untuk korek harian,” yakinnya. 

Gak perlu heboh, kan?

Senin, 25 Oktober 2010

Begini Jika Honda CS1 DIsulap Jadi Moge

Samarinda 25 Oktober 2010 - Karakter Honda CS1 yang sejatinya sebagai motor jenis city sport ternyata bisa juga disulap hingga berbentuk motor gede (moge) bergaya American style.
Coba saja tanyakan pada Dony Dwi Budianto. Honda CS1 bagi dia bisa berubah seperti motor yang dia inginkan. "Pada dasarnya saya memang suka dengan motor-motor Amerika, makanya konsep kali ini muscle bike," ujar Dony membuka percakapan kala ditemui di Samarinda, Kalimantan Timur, akhir pekan kemarin.

Demi memuaskan hasratnya terhadap motor-motor Amerika Serikat (AS), pria asal Madiun, Jawa Timur ini merubah CS1 lansiran 2008 miliknya secara total.
Seluruh bagian dari motor ini dikuliti termasuk rangka yang dibuat baru. Semua mengacu terhadap motor sport yang banyak wara-wiri di negeri Paman Sam itu.

Dibengkel modifikasi miliknya, ia beserta tim membuat semua rancang bangun moge AS yang baru untuk menggantikan struktur bodi dan rangka CS1. Mulai dari tangki, lampu depan, bodi samping, bentuk jok, hingga ke buritan.

Untuk kaki-kaki ia membuat secara custom, sementara bodi depan terinspirasi dari Honda CBR600, sementara buritan dan lampu belakang dari Shiver 750 yang dipadu knalpot Yamaha R6.

Ban berukuran 130/70-17 di depan dan 200/50-17 keluaran Michellin dipercayakan untuk mengapit pelek lansiran Honda NSR SP 150 350x17 dan NSR SP 150 500x17.

Uniknya di bagian kompartemen mesin Dony mengaku hanya melakukan modifikasi yang ringan. "Cuma bore-up sedikit saja, karena saya yakin mesin CS1 masih sanggup menggerakkan motor sebesar ini," tuturnya.

Selain itu ia juga mempercayakan penggunaan v-belt dibanding rantai untuk penggerak roda belakang. "Biar unik dan lain dari moge biasanya," kata dia.

Tak cukup sampai disitu, keunikan lain juga didapati dari penggunaan sensor monitor untuk menggantikan peranan spion yang terintegrasi dengan speedometer full digital.

Terakhir dony juga menerapkan audio system dengan speaker split 5 inci yang ia sembunyikan di kiri dan kanan tangki. Lantunan lagu-lagu kesayangan dari sebuah memory card yang diselipkan di MP3 player yang letaknya tersembunyi dibalik tangki, maka ia bisa tetap mendengarkan lagu meski sedang berjalan-jalan santai disekitar kediamannya.

Dengan modal yang mencapai 4x harga Honda CS1 standar, rasanya memang patut bila Dony diganjar gelar Best Free for All dan Best of The Best U Mild U Bikers Festrack 2010 di Samarinda.