Tampilkan postingan dengan label Upgrade. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Upgrade. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Februari 2011

Compression Tester Untuk Motor Balap dan Harian

Khusus untuk motor dilengkapi adaptor lubang busi (kiri).
Tekanan bisa di baca setelah motor distarter (Kanan).


Bikers Indonesia. 28 Februari 2011 - Menguji performa motor menggunakan dynotest rasanya sulit. Sebab harganya mahal dan jarang ditemukan. Coba jajal menggunakan compression tester.

Alat ini aslinya untuk mengukur tekanan atau kompresi di ruang bakar. Kita jadi mengetahuai kebocoran kompresi di dalam silinder. Bisa jadi karena ring piston aus atau piston sudah oblak.

Kebocoran kompresi bisa juga akibat sekir klep yang kurang rapat. Ini bisa mengurangi tenaga mesin. “Sebab tekanan dalam silinder berpengaruh terhadap power yang dihasilkan.



Motor standar pabrik yang normal, tekanan kompresinya 7-9 kg/cm². Atau bahkan bisa sampai 12 kg/cm². Jika kurang dari 7 atau 6 kg/cm², motor dipastikan susah hidup dan bahkan mogok. 

Lalu untuk menggunakan compression tester, juga sangat mudah. Tinggal dicolokkan ke lubang busi. Tentunya harus melepas busi terlebih dahulu ya.  

Lanjut, motor distarter atau dislah. Atau  paling mudah menggunakan elektrik starter. Kemudian perhatikan layar compression tester. Maka akan terlihat tekanan maksimal di dalam ruang bakar.

Di sana bisa dibaca hasil dari tekanan maksimal pada ruang bakar. Silakan pilih satuan mana. Mau PSI, Bar atau kg/cm². Tergantung mau pakai patokan apa.

PSI singkatan dari pound/square inchi atau pound/inchi². Konversinya 1 psi = 0,0703 kg/cm² = 0,06895 bar. Misalkan dari pengukuran didapat angka 100 psi = 7,03 kg/cm² = 6,895 bar. 

Angka ini bisa dijadikan patokan untuk setingan mesin. Misalkan dari hasil pengukuran angkanya 100 psi dan sukses bisa jadi juara satu. Maka untuk seting berikutnya, ya jangan rendah dari itu.

Misal angka yang keluar lebih rendah dari itu, berarti ada kebocoran kompresi. Bisa dari klep yang sudah kotor. Sehingga kotoran mengganjal di klep ketika menutup. Ini yang bikin kompresi bocor dan harus sekir ulang.

Tapi, setelah dibuka tau-nya beda, sekir klep masih rapat alias tidak bocor. Sebabnya bisa jadi dari ring piston yang memang sudah lemah atau aus.

Selain itu, bisa juga karena piston atau seher sudah oblak. Cara paling mudah, ya silakan ganti ring seher dan ukur kembali diameter boring. Jangan-jangan sudah longgar juga.

Namun bagaimana caranya untuk memiliki compression tester khusus untuk motor. Kalau bengkel resmi, dipastikan sudah pasti punya alat ini. Bengkel biasa juga bisa memilikinya. Bisa lacak di pertokoan yang khusus jual perlengkapan bengkel seperti Ace Hardware.

Tapi biasanya hanya tersedia compression tester untuk keperluan umum. Kalau dipakai buat motor, tidak bisa langsung klop. Juga tidak masuk ke dalam lubang busi yang ada ulirnya.

Harus dibuatkan adaptor di tukang bubut. Namun cukup berisiko karena tukang bubut belum tentu ngerti. Untuk itu harus dilacak yang bisa langsung pake. 

Memang kalau mau menebus alat ini harganya lebih mahal dibanding yang banyak beredar di pasaran. Karena sudah termasuk adaptornya.

Alat ini tidak hanya untuk keperluan balap. Bisa juga untuk menguji motor standar kalau mogok. Sebab, kompresi lemah akan bisa mudah dibaca lewat bantuan compression gauge. 

Kejadian kompresi lemah biasanya juga biasa dialami pada motor matik. Kejadian itu akibat mesin panas yang kadang dapat membuat ring piston rapat. Akibatnya kompresi ngelos. 

Atau bisa juga motor mogok apabila di ruang bakar banyak kerak. Kerak itu nempel di sitting klep dan mengganjal. Ini bisa juga bikin bocor kompresi.


Rasio Kompresi Diukur pakai buret atau suntikan (kiri).
Kompression tester langsung colok di lubang busi (kanan).
Rasio Kompresi Beda

Rasio kompresi beda dengan tekanan atau kompresi. Yang diukur menggunakan compression tester namanya kompresi. Satuannya PSI atau bar.

Sedangkan rasio kompresi menyatakan perbandingan volume ruang bakar plus volume silinder dibagi volume ruang bakar. Rumus rasio kompresi:

                               Vrb + Vs
Rasio kompresi = ----------------
                                  Vrb

Vrb = Volume ruang bakar (cc)

Vs = Volume silinder (cc)

Untuk mengukur volume ruang bakar tidak bisa menggunakan rumus. Tapi harus diukur pakai buret atau suntikan. Karena bentuk ruang bakar tidak beraturan.

Namun lebih dulu piston di posisi top atau TMA (Titik Mati Atas). Kemudian suntikan cairan oli campur bensin ke dalam ruang bakar sampai penuh. Dari sana akan ketahuan volume ruang bakar. Misalkan didapat Vrb = 10 cc.

Selanjutnya cari volume ruang bakar. Asal piston rata, bisa dicari pakai rumus volume silinder. Misal diameter seher 50 mm (5,0 cm) dan stroke 54 mm (5,4 cm). Volume silinder (Vs) jadinya 3,14 x 5,0² x 5,4 = 105,97 cc. 

                               10 + 105,97
Rasio kompresi=-------------------- = 11,6
                                   10 

Artinya rasio kompresi 11,6 : 1.

Rabu, 09 Februari 2011

Upgrade Megelli 250, Makin Sporty Sejati

Bikers Indonesia. Jakarta, 9 Februari 2011 - Minerva Sachs Megelli 250 punya kelebihan harga terjangkau plus tampangnya motor sport sejati. Sayangnya, kadang suka muncul beberapa masalah ketika dikendarai. Tapi tenang, ada beberapa parts yang bisa dikembangkan lagi supaya tampilan dan nilai fungsionalnya jadi lebih sejati.

Apalagi buat generasi awal Megelli 250R ataupun generasi selanjutnya 250RE yang mulai diperkenalkan Agustus 2010 lalu. Simak yuk apa saja barang-barangnya. "Paling banyak keluhan posisi setang yang terlalu rendah hingga bikin perut kadang mentok sama tangki," terang Engkos. 


Mengatasinya, balik saja handgrip sisi kanan untuk kiri begitu sebaliknya. Efeknya, setang terasa lebih tinggi dan posisi riding juga semakin nyaman. Cirinya lihat ketika setang ditekuk patah, maka posisi setang terlihat lebih mepet windshield (gbr.1).

Cerita rem Megelli yang kadang pakem kadang tidak juga sering terdengar. "Tapi hanya di Megelli generasi pertama, generasi selanjutnya sudah punya kampas rem lebih besar (gbr.2). Jadi, bisa aplikasi perangkat rem yang generasi baru, tapi cukup kalipernya saja," ujar Willi Hendranu, pemilik Megelli 250RE lansiran 2009.

Masih di bagian bawah, intip deh mur swing arm yang terlihat nongol sendirian. Daripada kotoran menumpuk dan bikin gerakan arm terhambat. Sebaiknya cari karet yang biasa dipakai alas kaki meja seukuran diameter lubang baut swing arm. Harganya cukup Rp 10 ribu untuk sepasang karet (gbr.3).

Kelar urusan safety, tengok bagian depan yang banyak bisa dioprek. Paling kentara bagian kolong sepatbor yang terlihat kopong. "Kalau lewat jalan becek, airnya suka ciprat ke spidometer sampai helm," ulas pria yang hobi IT ini. Mengatasinya pun tak perlu mahal. Tinggal beli mika plastik seharga Rp 15 ribuan yang dibentuk ulang.

"Pasangnya tinggal dibaut ke 2 buah lubang yang sudah tersedia di fork," ucap pria berambut lurus ini. Lalu kalau punya uang lebih, bisa juga ganti panel indikator Koso RX2 yang sudah multifungsi. Panel depan jadi terlihat penuh karena panel meter bawaannya mungil.

Urusan kenyamanan riding juga bisa diperoleh dari ubahan jok yang aslinya tipis. Bikin jok lebih tebal sekaligus dibentuk ulang lebih tinggi biar turing semakin nyaman. Harganya cukup Rp 150 ribu sudah termasuk pemasangan (gbr.4).

Tambah gaya kalau lampu asli Megelli yang sudah proyektor dibikin model angel eyes plus ganti bohlam lampu HID. "Tinggal pasang karena arus listrik Megelli sudah DC, paling tambah voltmeter untuk memantau kapasitas aki supaya tahu kalau aki sampai drop," sambung Engkos kali ini. Jangan sampai salah pilih karena bohlam lampu Megelli generasi pertama masih H7, sedang generasi kedua sudah H1.

Selasa, 25 Januari 2011

Paket Korek Harian Enak Honda CS1, Mulai Rp 1-3 Jutaan


Jakarta, 25 Januari 2011 - Meski sudah berkapasitas 124,7 cc, masih banyak pemilik  Honda CS1 yang kurang puas dengan tarikan awalnya, “Makanya, ada yang upgrade pengapian, knalpot dan lainnya demi mengejar atau sekadar tambah akselerasi,” ucap Wahyudin, pemilik Honda CS1. 

Untuk memungkinkan hal itu, perlu adanya penambahan part tertentu sebagai pendukung agar tenaga mesin tak terbuang percuma. Nah, kalau Anda penasaran, kami membeberkan hasil pencarian dari beberapa bengkel yang biasa kasih pakohnak alias paket korek harian enak buat mesin si CS1 ini. 

Menurut Hendry pemilik bengkel Triwarna Speed (TS), pakhonak bisa jadi solusi nyembuhin penyakit Honda CS1 di putaran bawah yang kurang greng. “Karbu standar kadang suka lemot merespon putaran grip gas, makanya mesti diganti tipe racing berikut CDI non-limit dan knalpot aftermarket,” katanya. 

Untuk otak pengapian, TS lebih pilih CDI BRT tipe dualband, yang punya kelebihan putaran mesin bisa tembus di atas 13 ribu rpm dalam keadaan gigi netral. Proses porting polish tetap ada dan ditambahkan karbu PE 28 dan bobok knalpot. 

“Hasilnya, ruang bakar jadi lebih padat. Setelah selesai, pemilik besutan mesti mencoba dan mengoreksi bagian ke­kurangannya agar sesuai kapasitas yang ada,” ungkap pria yang buka bengkel di kawasan Kelapa Dua, Depok. 

Lainnya, ada juga bengkel di Jl. Lapangan Bola No.35, Kebon Jeruk, Jakbar ini, punya kategori pilihan yang biasa diminta para speedgoers. Syaratnya, pakhonak yang tersedia kudu mengganti di beberapa titik jika mau oke besutan Anda. 



Pilihan koil juga bisa jadi alternatif lain (kiri).
Karbu Honda NSR SP karbu sejuta umat (kanan)
. 
Biasanya karbu Honda NSR SP berventuri 28 mm, CDI hanya diset­ting ulang timming pengapiannya, por­­ting polish, papas noken as, ganti klep in dan knalpot. “Koil juga penting, untuk meningkatkan lompatan bunga api di busi, bisa pakai punya motor trail Yamaha YZF 125 atau Honda CRF, agar kerja mesin lebih ringan dan maksimal. Sudah paling pas deh buat harian,” terang Ando pemilik bengkel PSC. 

Beda cerita Fiki Farhan pemilik bengkel Fiki Motor (FM) yang sudah biasa menangani korekan buat Honda CS1. “Kalo buat harian jangan terlalu ekstrem beda dengan balap resmi, cukup perbaiki performa ditarikan awal saja, yang penting gak malu-maluin diajak ngacir,” kata pria yang buka bengkel di daerah Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi. 

Nah, untuk mewujudkan hal itu, menurutnya ada beberapa komponen yang harus diubah. Misal mengganti jeroan karbu standar (pilot jet/main jet) dan otak pengapian pakai CDI BRT dualband atau Rextor. Apa knalpot juga diganti tipe racing Bos? 

“Gak usah, knalpot cukup dibobok, bagian dalam silencer kita atur ulang posisinya agar tak terlalu banyak sekat atau saringan, sehingga gas buang lebih plong dan kita seting ulang spuyernya sampai maksimal, dari situ bisa diketahui sebatas mana CS1 ini untuk korek harian,” yakinnya. 

Gak perlu heboh, kan?

Sabtu, 22 Januari 2011

Pilihan Per Kopling Aftermarket Honda CS1


Jakarta - Buat mendukung tarikan lebih yahud, enggak sedikit pemilik Honda CS1 yang mengganti per kopling (PK) bawaan dengan produk aftermaarket berspesifikasi racing (umumnya, bahan lebih kuat, keras. Jadi diklaim lebih bagus) atau adopsi milik motor lain yang lebih oke (gbr.1). 


Oh ya, fungsi PK adalah, komponen yang memberikan tekanan pada kampas kopling agar peranti itu menempel dengan kuat pada pelat kopling, sehingga perpindahan transmisi dapat dilakukan dengan baik dan meminimalkan tenaga yang hilang. 

Kuat atau lemahnya per kopling mendorong kampas pada pelat kopling (saat gaya sentrifugal) akan mempengaruhi proses perpindahan tenaga putaran mesin ke gir dan roda belakang. 


Bicara merek, di pasaran tersedia PK racing dari ‘label papan atas’ kayak CLD, TDR, Daytona, R9, BRT dan Kawahara. Kalo harga bervariasi, mulai Rp 50-130 ribuan. Emang sih, PK racing untuk Honda CS1 tidak sebanyak besutan lain. 



Tapi enggak usah resah. Meski per kopling aftermarket CS1 masih jarang, tapi bisa pake punya Honda Karisma 125, kok! Karena diameter dan tingginya hampir sama. 



Untuk mengaplikasi PK tersebut sah-sah saja buat tunggangan yang masih standar. Selain itu juga membuat kampas kopling jadi lebih awet dan akselerasi lebih cepat. Apalagi, tunggangan yang dibore-up, butuh dorongan yang maksimal. 



Untuk PK aftermarket, rata-rata mempunyai batas kekenyalan lebih keras dibanding standarnya. Dengan itu, bukan berarti yang keras itu bagus, lo! 



Usahakan jangan terlalu keras, bisa merusak rumah (baut) PK karena menahannya, saat tuas kopling ditarik (kopling manual). Baiknya, cari panjangnya lebih 2 ulir dari standarnya dan diameter yang sama. 



Kekenyalan PK bisa dilihat dari tinggi pegas dan diameter ulir per (gbr.3). Semakin tinggi dan besar, biasanya akan kian keras pula per tersebut. Untuk itu per kopling banyak ragam ukurannya, mulai motor standar sampai full kompetisi. 


Selain itu, material bahan juga ikut menentukan harga. Maksudnya, selain harus kuat menekan pelat kopling, pegas dituntut harus cepat kembali ke posisi awal setelah ditekan penuh. Nah, itu hanya bisa didapat dari material yang berkualitas bagus. 



Seperti PK BRT (gbr.4) seharga Rp 99 ribu, yang dibuat dari kawat baja murni yang diproses dengan sistem Hot Wire System. Karena proses tersebut, per kopling BRT lebih awet dan dijamin tingkat penurunan sangat kecil.

Kamis, 20 Januari 2011

Upgrade Performa Honda PCX 125


Jakarta, 21 Januari 2011 - Berencana bikin performa Honda PCX 125 kesayangan makin responsif dan lebih enteng pada putaran bawahnya? Enggak ada salahnya lirik hasil racikan Lorenz Sigar, warga Cilandak Timur, Jaksel yang baru berusia 3 bulan ini. 



“Cuma pasang modul pengapian Andrion4 power, koil Andrion 5A, ganti knalpot custom model freeflow, ganti roller dan aplikasi busi NGK Iridium. Kalau diitung-itung, biaya totalnya sekitar Rp 2,5 juta,” ungkap Lorenz. 

Pengerjaan cukup sehari, soalnya part yang diaplikasi model plug and play (PnP). “Tapi knalpot full stainless ini mesti reset dulu. Harganya Rp 900 ribu. Ini racikan yang kedua dan hasilnya sudah pas. Bikinan pertama terlalu plong, sehingga putaran bawah kurang nendang,” imbuh pria yang mengaku part tersebut hasil riset sendiri.

Begitu juga dengan modul pengapian khusus injeksi ini. Awal pasang, Lorenz aplikasi Andrion 2 power, tapi hasilnya tampilankurang memuaskan. “Setelah coba yang 4 power ini, putaran bawahnya jauh lebih bagus. Ongkos tebusnya Rp 1,1 juta,” aku pria 30 tahun. 

Tak ketinggalan, selain uji coba modul, untuk peroleh hasil optimal, pria berprofesi sebagai fotografer ini juga gonta-ganti koil pengapian. “Sebelumnya saya pasang koil Andrion 2A, tapi perubahannya kurang terasa. Tapi setelah pakai yang 5A, lebih cocok dan terasa perubahannya. Harganya Rp 325 ribu,” yakin bapak 1 anak ini. 

Selain itu, untuk membantu dongkrak pengapian di ruang bakar agar lebih optimal, pria berbobot 75 kg ini aplikasi busi NGK iridium CR7 EIX, yang ditebusnya Rp 100 ribu. “Hal ini untuk menyesuaikan pengapian yang sudah meningkat. Misal busi tandar tidak diganti, kemungkinan hasilpembakarannya juga kurang maksimal,” kekeh pria berpostur tinggi 170 cm. 


Terakhir, demi membantu putaran bawah lebih cepat, Lorenz melengserkan roller orisinalnya (18 gr) dan diganti roller KTC 14 gr, versi aftermarket Suzuki Skywaveyang ditebus dengan dana Rp 75 ribu. 

Setelah dites pakai mesin dyno Sportdyno V3.3 milik Global Motorindo di daerah Galur, Jakpus, menunjukkan hasil power maksimalnya 9,8 dk/4.570 rpm. Sedang torsinya 18,05 Nm/3.708 rpm. 

“Berhubung kondisi standar tidak sempat tes dyno, perubahannya sebelum dan sesudah di-upgrade seberapa besar, tidak ada pembandingnyayang akurat,” imbuh Lorenz. 

Masih ujarnya. “Kalau dibanding hasil dyno yang tertera di brosur (power : 11,7 PS/8.500 rpm, torsi : 1,19 kgfm/6.000 rpm), memang kelihatan menurun. Tapi hasil tes pabrikan juga tidak bisa jadi patokan utama.Yang jelas, setelah diubah demikian, untuk melibas tanjakan makin eces alias gampang. Akselerasi lebih cepat, meski berboncengan dengan istri. Stop and go di perkotaan, juga tambah oke.” 

Hati-hati ngegas-nya, Gan!